Kemenpar Siapkan Rencana Rekonstruksi Desa Adat Sade di Lombok Pascakebakaran

Kebakaran yang melanda Kampung Adat Sade di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 22 Agustus telah memicu respons cepat dari Kementerian Pariwisata. Dalam upaya untuk memulihkan dan merekonstruksi desa yang kaya akan budaya ini, Kementerian Pariwisata bersiap untuk meluncurkan skema rekonstruksi yang terintegrasi. Kebakaran tersebut tak hanya merusak fisik bangunan, tetapi juga mengancam keberlanjutan warisan budaya yang ada di sana.
Rencana Rekonstruksi yang Komprehensif
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mengungkapkan bahwa kementeriannya sedang berkolaborasi dengan Politeknik Pariwisata dan pemerintah daerah untuk melakukan pemulihan yang menyeluruh. Dalam keterangan resmi yang disampaikan, ia menegaskan pentingnya melibatkan masyarakat dalam proses rekonstruksi agar hasilnya sesuai dengan kebutuhan dan harapan mereka.
Kolaborasi yang Solid
Widiyanti menyatakan bahwa pemulihan ini akan mengedepankan penyusunan masterplan yang tidak hanya fokus pada aspek fisik bangunan, tetapi juga pada penguatan ketahanan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat setempat. Ini merupakan langkah penting untuk memastikan bahwa Kampung Adat Sade dapat kembali berfungsi sebagai pusat budaya yang hidup.
Empat Langkah Utama dalam Rekonstruksi
Dalam rangka merumuskan rencana jangka panjang untuk rekonstruksi Desa Adat Sade, Widiyanti mengadakan rapat koordinasi yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Gubernur NTB, Bupati Lombok Tengah, serta pemangku kepentingan lainnya. Keempat langkah utama yang disepakati dalam pertemuan ini adalah sebagai berikut:
- Pembentukan tim kerja lintas sektor yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, mitra, dan masyarakat adat.
- Pembukaan akun donasi satu pintu untuk memfasilitasi pengumpulan dana rekonstruksi.
- Penyusunan masterplan yang mempertahankan karakter dan identitas Desa Sade.
- Penerapan sistem proteksi kebakaran terintegrasi untuk meningkatkan keselamatan.
Tim Kerja Lintas Sektor
Langkah pertama meliputi pembentukan tim kerja yang akan melakukan pendataan menyeluruh terhadap masyarakat dan pekerja yang terdampak. Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap penyaluran bantuan dapat dilakukan secara lebih akurat dan tepat sasaran, sehingga masyarakat yang paling membutuhkan mendapatkan dukungan yang diperlukan.
Penggalangan Dana untuk Rekonstruksi
Salah satu tantangan utama dalam proses pemulihan adalah pemenuhan pasokan bahan baku bangunan tradisional. Untuk itu, pemerintah berencana membuka akun donasi satu pintu yang akan mempermudah masyarakat dan donatur untuk menyumbangkan dana bagi rekonstruksi desa. Langkah ini diharapkan dapat menjembatani kebutuhan mendesak masyarakat adat dalam membangun kembali hunian mereka.
Masterplan Rekonstruksi yang Berkelanjutan
Langkah ketiga adalah penyusunan masterplan rekonstruksi yang akan dilakukan secara kolaboratif dengan masyarakat adat dan para pemangku kepentingan. Masterplan ini dirancang untuk memastikan bahwa karakter dan identitas asli Desa Sade tetap terjaga, sehingga proses rekonstruksi bukan hanya sekedar membangun fisik bangunan, tetapi juga menjaga warisan budaya yang ada.
Integrasi Sistem Proteksi Kebakaran
Sebagai bagian dari masterplan, pemerintah akan mengimplementasikan sistem proteksi kebakaran yang terintegrasi. Ini meliputi penyediaan titik-titik Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang dirancang sesuai dengan estetika desa, pembuatan embung air darurat, serta penataan infrastruktur dasar seperti sanitasi dan pengelolaan sampah. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan keselamatan masyarakat dari risiko kebakaran di masa depan.
Pentingnya Rumah Adat bagi Masyarakat
Widiyanti menekankan bahwa rumah adat di Kampung Sade bukan hanya sekedar bangunan, tetapi juga memiliki nilai historis yang tinggi. Rumah-rumah ini menjadi bagian integral dari kehidupan dan mata pencaharian masyarakat setempat. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan rumah yang layak huni bagi masyarakat adat Sade.
Peran Masyarakat dalam Proses Pemulihan
Proses pemulihan yang inklusif menjadi salah satu fokus utama dalam rencana rekonstruksi. Widiyanti menekankan bahwa masyarakat harus diletakkan sebagai aktor utama dalam setiap tahap pemulihan. Dengan melibatkan masyarakat secara aktif, diharapkan mereka dapat memiliki rasa kepemilikan terhadap hasil akhir dari rekonstruksi yang dilakukan.
Proyek Percontohan untuk Desa Adat Lainnya
Pemerintah berharap bahwa rangkaian masterplan rekonstruksi ini dapat menjadi proyek percontohan bagi desa-desa adat lainnya. Dengan demikian, inisiatif ini tidak hanya akan memperkuat mitigasi risiko dan keselamatan, tetapi juga menjaga nilai-nilai tradisi yang ada. Proyek semacam ini bisa menjadi model bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.
Empati untuk Masyarakat Terdampak
Dalam pernyataannya, Widiyanti juga menyampaikan rasa empati yang mendalam kepada masyarakat yang terdampak kebakaran. Ia berharap bahwa dengan langkah-langkah yang diambil, masyarakat Desa Adat Sade dapat segera pulih dan kembali menjalani kehidupan mereka dengan lebih baik. Rencana rekonstruksi ini diharapkan tidak hanya mengembalikan kondisi fisik desa, tetapi juga memulihkan semangat masyarakatnya.
➡️ Baca Juga: 13 Pejabat Kementan Dipecat Karena Terlibat dalam Kasus Judol yang Menghebohkan
➡️ Baca Juga: Sulsel Tawarkan Kuota Sertifikasi Halal Gratis 2026, UMKM Dapat Mendaftar Sekarang




