Kolaborasi Heksahelix dan Lampung Selatan: Langkah Strategis Membentuk Masa Depan yang Lebih Baik

Ada sesuatu yang menarik sedang berlangsung di Pendopo Agung, Rumah Dinas Bupati Lampung Selatan. Bukan hanya kegiatan resmi pemerintahan, tetapi juga terjadi pertukaran ide dan diskusi antara pemuda dan pemerintah. Kolaborasi heksahelix dan Lampung Selatan ini bukan hanya sekadar pertemuan, tetapi sebuah langkah strategis untuk membentuk masa depan yang lebih baik.
Kolaborasi Aktivis Mahasiswa dan Bupati
Tak seperti biasanya, Pendopo Agung, Rumah Dinas Bupati Lampung Selatan, menjadi tempat berlangsungnya diskusi yang penuh semangat. Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, secara pribadi menyambut kedatangan aktivis mahasiswa dari Aliansi Cipayung Plus dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Lampung Selatan.
Pertemuan ini bukanlah sekedar temu ramah biasa, melainkan kelanjutan dari aspirasi yang sebelumnya disuarakan oleh mahasiswa di jalanan pada 23 Februari 2026. Teriakan di jalanan kini bertransformasi menjadi diskusi konstruktif, dalam rangkaian kolaborasi Heksahelix.
LamSel ConNextion: Wadah Aspirasi Tanpa Batas
Dalam suasana yang penuh partisipasi, Bupati Radityo Egi Pratama menunjukkan komitmen kuatnya untuk tidak membiarkan ide-ide segar dari pemuda hanya menguap begitu saja.
Sebagai bentuk dukungan, ia meluncurkan “LamSel ConNextion”, sebuah platform strategis yang akan berfungsi sebagai laboratorium ide, tempat diskusi, dan penunjuk arah bagi gerakan pemuda-mahasiswa di Lampung Selatan.
“Pembangunan daerah tak bisa dilakukan secara individu. Kami butuh energi dari pemuda. Mahasiswa bukan hanya pengawas dari luar, tetapi mereka adalah mitra strategis yang duduk bersama kami dalam merumuskan solusi,” tegas Bupati Egi.
Perspektif Akademisi: Lompatan Progresif Tata Kelola Daerah
Diskusi yang berlangsung ini dipandu oleh Naufal A. Caya, seorang akademisi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Tulang Bawang (UTB) dan juga Direktur Eksekutif SIGER Institute. Ia menilai bahwa langkah Bupati Egi merupakan terobosan komunikasi politik yang inklusif.
“Mengubah mahasiswa dari objek menjadi subjek pembangunan adalah langkah yang sangat tepat. Model Heksahelix ini memberikan ruang setara bagi pemerintah dan pemuda untuk berkolaborasi secara produktif,” ujar Naufal, mantan aktivis mahasiswa ini.
Menurutnya, dialog ini adalah kesempatan berharga untuk menginstitusikan partisipasi pemuda dalam kebijakan publik. Ia menegaskan bahwa kebijakan di masa depan harus lahir dari proses yang didukung oleh:
- Riset dan data yang akurat
- Kepekaan sosial terhadap kebutuhan masyarakat
- Komunikasi inklusif lintas sektor
Pertemuan ini menjadi penanda bahwa Lampung Selatan sedang bergerak menuju tata kelola pemerintahan yang lebih modern. Dengan semangat Heksahelix, kolaborasi ini diharapkan dapat memicu inovasi di sektor ekonomi lokal dan meningkatkan kualitas layanan publik.
“Ketika pemerintah membuka pintu dan pemuda menjawabnya dengan gagasan nyata, di situlah fondasi masa depan Lampung Selatan yang berkelanjutan sedang kita bangun,” tutup Naufal dengan penuh optimisme.
Saat ini, bola berada di tangan pemuda dan pemerintah. Masyarakat menunggu apakah sinergi ini dapat melahirkan inovasi baru bagi Bumi Khagom Mufakat melalui LamSel ConNextion.
➡️ Baca Juga: Prabowo Presiden, Berbuka Puasa Bersama Pemimpin Ormas Islam di Istana Merdeka
➡️ Baca Juga: Membedah Perbedaan Kendaraan HEV dan PHEV: Kesamaan dan Perbedaan Utama

