IHSG Hari Ini Menguat Berkat Ekspektasi Dovish dari The Fed

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan yang signifikan, sejalan dengan tren positif yang terlihat di bursa saham Asia. Meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih dovish dari The Fed telah memberikan dukungan bagi pergerakan indeks ini.
Pendorong Utama IHSG Menguat
Harapan adanya penurunan suku bunga di Amerika Serikat telah menciptakan sentimen yang positif terhadap aset-aset berisiko, yang berpotensi memperbaiki arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam konteks ini, IHSG memiliki peluang untuk menguat meskipun investor tetap harus waspada terhadap risiko global dan arah kebijakan The Fed.
Perkembangan IHSG di Bursa Efek Indonesia
Pada hari Senin (5/10), IHSG Bursa Efek Indonesia ditutup menguat sebanyak 81,97 poin atau setara dengan 1,36 persen, mencapai posisi 6.118,86. Kenaikan ini mengikuti penguatan bursa di kawasan Asia, yang dipicu oleh ekspektasi bahwa The Fed akan menerapkan kebijakan yang lebih dovish dalam pertemuan mereka pada Oktober 2026.
Indeks LQ45, yang mencerminkan 45 saham unggulan, juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan sebesar 7,77 poin atau 1,30 persen, berakhir di level 603,23. Keduanya menunjukkan optimisme pasar terhadap prospek ekonomi yang lebih stabil.
Data Ketenagakerjaan AS dan Dampaknya
Menurut Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment di Pilarmas Investindo Sekuritas, bursa regional Asia menunjukkan penguatan berkat data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari ekspektasi. Penambahan hanya 29.000 pekerjaan pada September 2026 jauh di bawah perkiraan peningkatan sebanyak 90.000, yang menambah keyakinan bahwa tekanan pada The Fed untuk memperketat kebijakan moneter akan berkurang.
- Data pekerjaan AS meningkat hanya 29.000 pada September 2026.
- Perkiraan awal adalah kenaikan sebanyak 90.000 pekerjaan.
- Tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,2 persen.
- Pertumbuhan upah tahunan melambat menjadi 3,0 persen.
- Kondisi tersebut mengurangi tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga.
Implikasi Kebijakan Moneter
Nico menambahkan bahwa kondisi tersebut kemungkinan akan membuat The Fed mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah pada pertemuan mendatang. Namun, pasar tetap berhati-hati seiring dengan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak dunia.
Faktor-Faktor Dalam Negeri yang Mempengaruhi IHSG
Dari sisi domestik, IHSG juga sedikit tertekan oleh beberapa faktor, termasuk melemahnya nilai Rupiah, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tetap tinggi, serta harga minyak dunia yang masih berada pada level yang mengkhawatirkan, meskipun mulai menunjukkan penurunan.
Imbal hasil obligasi Treasury AS untuk tenor 10 tahun telah menurun menjadi sekitar 5,25 persen, sedangkan imbal hasil untuk tenor 30 tahun juga mengalami penurunan, mendekati 5,6 persen. Meskipun demikian, angka-angka ini masih dianggap tinggi dan menjadi perhatian bagi para investor.
Harga Minyak dan Inflasi
Harga minyak dunia yang tetap tinggi juga memunculkan kekhawatiran akan inflasi, terutama dalam konteks ketegangan yang berkepanjangan di Timur Tengah. Oleh karena itu, sentimen negatif ini berkontribusi pada kerentanan eksternal Indonesia.
- Harga minyak dunia masih berada pada level tinggi.
- Kekhawatiran inflasi menjadi perhatian utama.
- Ketegangan Timur Tengah berkontribusi pada ketidakpastian pasar.
- Surplus perdagangan Agustus 2026 menunjukkan potensi positif.
- Inflasi September meningkat menjadi 3,28 persen, mendekati batas atas target Bank Indonesia.
Nico mengungkapkan, meskipun ada surplus perdagangan pada Agustus 2026, risiko inflasi tetap menjadi perhatian setelah inflasi bulan September menunjukkan angka 3,28 persen, yang mendekati batas atas target Bank Indonesia sebesar 3,5 persen. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun IHSG menguat, tantangan-tantangan tersebut harus tetap diwaspadai oleh para pelaku pasar.
Kesimpulan yang Dapat Diambil
Secara keseluruhan, IHSG saat ini menunjukkan potensi penguatan yang didorong oleh ekspektasi kebijakan moneter yang lebih dovish dari The Fed. Walaupun ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan, termasuk tekanan pada nilai Rupiah dan harga minyak dunia, sentimen positif yang dihasilkan dari data ketenagakerjaan AS memberikan harapan bagi para investor di pasar modal Indonesia. Dengan terus memantau perkembangan ini, diharapkan IHSG dapat terus mempertahankan tren positifnya di masa mendatang.
➡️ Baca Juga: BPSDMP Bersinergi dengan 10 Pemda untuk Meningkatkan SDM Transportasi Melalui Pembibitan Taruna Kemenhub
➡️ Baca Juga: Keributan di Karnaval Tagogapu: Panitia Mengungkap Dugaan Penyebabnya




