Kecerdikan Iran Hadapi Amerika dan Sekutunya di Timur Tengah jadi Sorotan Luhut Binsar Pandjaitan

— Paragraf 1 —
JABAR EKSPRES – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyoroti strategi Iran dalam konflik yang sedang berkecamuk di Timur Tengah.
— Paragraf 2 —
Menurut dia, Iran menunjukkan kecerdikan dalam merespons serangan Amerika Serikat dan sekutunya, terutama melalui pemanfaatan teknologi drone berbiaya rendah.
— Paragraf 3 —
Luhut mengatakan perang modern kini tidak hanya mengandalkan kekuatan militer konvensional, melainkan juga teknologi. Ia menilai Iran berhasil memanfaatkan teknologi drone murah yang efektif dalam operasi militer jarak jauh.
— Paragraf 4 —
“Perang teknologi yang dimana bisa di lihat betapa cerdiknya Iran memakai drone yang murah, namun bisa terbang dua ribu Km dan very accurate to attack, to hit any target,” ujar Luhut, Rabu (11/3/26).
— Paragraf 5 —
Menurutnya, kemampuan Iran tersebut membuat Amerika dan sekutunya menghadapi kesulitan untuk menghadapinya.
— Paragraf 6 —
“Jadi dia harus menghancurkan pusat-pusat produksi daripada drone dan sistem pertahanan udaranya,” kata Luhut.
— Paragraf 7 —
Luhut juga meminta baik masyarakat umum atau mahasiswa untuk mencermati bagaimana Iran menghadapi tekanan dan serangan dari negara lain. Ia menilai Iran memiliki sejarah panjang sebagai bangsa yang kuat dan tidak mudah ditaklukkan.
— Paragraf 8 —
“Mereka (Iran) menguasai teknologi. Dan jangan lupa, Iran itu adalah bangsa Arya, saya ulangi Iran itu adalah bangsa Arya, bangsa yang tidak pernah dijajah. Saya lihat Iran ini satu negara yang hebat dan fighting spirit nya kuat, tidak gampang ini dealing dengan mereka. Kita lihatlah apa yang akan terjadi ke depan ini,” ujar Luhut.
— Paragraf 9 —
Ia juga menyebut serangan balasan Iran tidak hanya diarahkan kepada Israel, tetapi juga berdampak pada wilayah strategis lain di kawasan Timur Tengah.
— Paragraf 10 —
“Serangan balas dari Iran juga tidak hanya ke Israel, tapi Hormuz dan juga negara-negara Arab lainnya.”
— Paragraf 11 —
Menurut Luhut, konflik yang terus berlangsung di kawasan tersebut tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang campur tangan negara-negara besar.
— Paragraf 12 —
“Tapi kalau jujur, bila belajar sejarah, sebenarnya yang menjadi malapetaka ini semua dalangnya adalah negara-negara maju,” cetusnya.
— Paragraf 13 —
Ia menyinggung sejarah pembagian wilayah di Timur Tengah yang terjadi pada masa kolonial hingga setelah Perang Dunia Kedua.
➡️ Baca Juga: Tips Cek Sistem Rem Mobil Sebelum Mudik, Begini Rekomendasi Suzuki
➡️ Baca Juga: Mirza-Jihan Hadiri Peluncuran Koran IJP dan Buku Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan




