Setiap 30 Maret, masyarakat Indonesia memperingati Hari Film Nasional, yang menjadi titik penting untuk merayakan perjalanan dan perkembangan industri perfilman di Tanah Air. Pada tahun 2026 ini, peringatan tersebut menandai usia ke-76 tahun, berakar dari kelahiran film ‘Darah dan Doa’ (1950) yang digarap oleh Usmar Ismail, yang dianggap sebagai film pertama yang dihasilkan oleh sineas lokal. Semangat yang ditanamkan oleh pelopor film Indonesia ini kini semakin membuahkan hasil. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengungkapkan bahwa hingga 31 Desember 2025, jumlah penonton film Indonesia mencapai 80,27 juta, sedikit meningkat dari tahun sebelumnya yang mencatatkan 80,21 juta penonton. Dalam perayaan Hari Film Nasional ini, kami menyajikan lima rekomendasi film Indonesia yang tidak hanya sukses di pasar domestik, tetapi juga mendapatkan pengakuan di tingkat internasional melalui prestasi di festival film. Berita baiknya, film-film ini dapat disaksikan melalui berbagai platform streaming resmi seperti Netflix.
1. Penyalin Cahaya (2021)
Merupakan film Indonesia yang pertama kali meraih perhatian dunia, ‘Penyalin Cahaya’ adalah karya debut panjang dari sutradara Wregas Bhanuteja. Film ini tayang perdana di Busan International Film Festival pada tahun 2021 dan berhasil mengantongi penghargaan sebagai Film Terbaik. Dengan durasi 129 menit, cerita berfokus pada Sur (diperankan oleh Shenina Cinnamon), seorang mahasiswa yang kehilangan beasiswanya akibat tuduhan mencemarkan nama baik fakultas setelah foto swafotonya dalam keadaan mabuk viral. Dalam kebingungan, Sur berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi selama pesta kemenangan komunitas teater di kampusnya, dengan bantuan Amin (Chicco Kurniawan), sahabat masa kecilnya.
2. Jakarta vs Everybody (2020)
Film kedua dalam daftar kami adalah ‘Jakarta vs Everybody’, yang disutradarai oleh Ertanto Robby Soediskam dan diproduksi oleh Pratama Pradana Picture. Diperankan oleh Jefri Nichol dan Wulan Guritno, film ini menyoroti sisi kelam Jakarta melalui perjalanan Dom (Jefri Nichol), seorang pemuda yang bercita-cita menjadi aktor namun terjebak dalam kerasnya kehidupan di ibu kota. Dalam petualangannya, Dom bertemu dengan pasangan Pinkan (Wulan Guritno) dan Radit (Ganindra Bimo), yang membawanya ke dalam situasi berbahaya. Kehadiran karakter Ratih (Jajang C. Noer) dan Khansa (Dea Panendra) menjadi momen penting yang memaksa Dom untuk menentukan pilihan: mengejar impiannya atau terjerumus lebih dalam ke dalam realitas kelam kota.
3. Gundala (2019)
Di urutan ketiga terdapat film superhero ‘Gundala’, yang disutradarai oleh Joko Anwar dan diproduksi oleh Bumilangit Studios, Screenplay Films, dan Legacy Pictures. ‘Gundala’ menjadi film Indonesia pertama yang mengadopsi teknologi suara Dolby Atmos dan telah diputar di berbagai festival internasional seperti Toronto International Film Festival dan Paris International Fantastic Film Festival. Film ini bercerita tentang Sancaka (Abimana Aryasatya), seorang pria yang terbiasa hidup di jalanan tanpa mempedulikan orang lain. Namun, ketika keadilan di kotanya terancam, Sancaka harus memilih antara tetap bersembunyi atau bangkit sebagai ‘Gundala’ untuk membela yang tertindas.
4. Kucumbu Tubuh Indahku (2018)
‘Kucumbu Tubuh Indahku’ juga menjadi salah satu film Indonesia yang meraih pengakuan di tingkat internasional. Film ini tayang perdana di Venice International Film Festival dan berhasil meraih penghargaan Bisato D’Oro Award di Venice Independent Film Critic serta dinobatkan sebagai Film Terbaik di Festival Des 3 Continents. Karya sutradara Garin Nugroho ini mengeksplorasi perjalanan hidup Juno (Muhammad Khan) melalui seni tari Lengger, di mana ia harus menghadapi identitas diri dan trauma masa lalu di tengah lingkungan yang penuh konflik. Film ini mendapatkan pujian tinggi di Venice International Film Festival berkat keberaniannya dalam mengangkat tema tubuh, seni tradisional, dan kemanusiaan dengan visual yang menawan.
5. Pengabdi Setan (2017)
Film terakhir yang kami rekomendasikan adalah ‘Pengabdi Setan’, sebuah film horor legendaris yang disutradarai oleh Joko Anwar dan dibintangi oleh Tara Basro. Film ini berhasil meraih berbagai penghargaan di Amerika Serikat, termasuk sebagai Film Horor Terbaik di Toronto After Dark Film Festival dan Film Terbaik di Overlook Film Festival 2018. ‘Pengabdi Setan’ mendefinisikan ulang standar film horor lokal dengan menyebarkan ketakutan hingga ke mancanegara. Berlatar belakang tahun 1980-an, film ini mengisahkan sebuah keluarga yang kehilangan sosok Ibu (Ayu Laksmi). Setelah pemakaman, suasana rumah menjadi mencekam ketika sosok sang Ibu tampak kembali, bukan untuk melepas rindu, tetapi untuk menjemput sesuatu yang belum tuntas. Atmosfer yang kuat menjadikan film ini salah satu film horor Indonesia paling sukses sepanjang masa.
Dengan merayakan Hari Film Nasional 2026, kita tidak hanya mengenang perjalanan panjang perfilman Indonesia, tetapi juga menyaksikan bagaimana film-film lokal mampu berprestasi di kancah internasional. Ini adalah saat yang tepat untuk mendukung industri film dalam negeri dan menikmati karya-karya yang telah mengharumkan nama Indonesia di dunia perfilman.
➡️ Baca Juga: Mengupas Lirik dan Makna di Balik Lagu Sempurnanya Aku oleh NPD: Kajian Lengkap dan Mendalam
➡️ Baca Juga: Peluang Karier 2026: Rekrutmen Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia Sudah Dibuka, Cek Syaratnya!
