Longsor TPST Bantar Gebang Tunjukkan Kelemahan Sistem Pengelolaan Sampah di Indonesia

Longsor yang terjadi di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang menjadi sebuah tragedi yang merenggut nyawa tujuh orang dan sekaligus mencerminkan lemahnya sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Insiden ini menunjukkan bahwa pendekatan yang selama ini diambil dalam mengelola sampah masih sangat tidak memadai. Menurut Wiratni, seorang Guru Besar di Program Studi Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM), masalah utama terletak pada cara pandang masyarakat dan pemerintah dalam mengelola limbah. Selama ini, pengelolaan sampah lebih difokuskan pada pembuangan, bukan pengolahan yang berkelanjutan. Hal ini menyebabkan penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir tanpa adanya pengurangan yang efektif. Pada kenyataannya, sistem pengelolaan sampah yang ideal harus mengedepankan upaya pengurangan di hulu dan pengolahan di hilir.

Permasalahan Dasar dalam Pengelolaan Sampah

Wiratni menegaskan bahwa praktik pembuangan sampah melalui landfill masih memiliki peran dalam sistem pengelolaan modern, namun seharusnya landfill merupakan langkah terakhir setelah semua proses pengolahan dilakukan. Idealnya, pengelolaan sampah harus dimulai dari pemilahan di sumber, dilanjutkan dengan komposting untuk limbah organik, hingga proses termal untuk material anorganik. Dengan pendekatan ini, jumlah residu yang harus menuju landfill dapat diminimalkan.

“Landfill seharusnya hanya digunakan sebagai tempat akhir setelah semua langkah pengolahan dilakukan,” ungkapnya. Sayangnya, banyak tempat pembuangan akhir di Indonesia yang tidak memenuhi standar pengelolaan yang seharusnya. Penimbunan sampah dilakukan tanpa memperhatikan kaidah desain landfill yang aman, seperti pengaturan kemiringan lereng dan batas ketinggian tumpukan. Selain itu, sistem pengelolaan air lindi yang baik sangat diperlukan untuk mencegah pencemaran lingkungan dan risiko longsor yang tinggi.

“Di Indonesia, landfill sering dijadikan tempat untuk menumpuk sampah tanpa memperhatikan standar yang berlaku,” tambah Wiratni.

Persepsi Masyarakat Terhadap Masalah Sampah

Wiratni juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap persepsi masyarakat yang sering menganggap masalah sampah hanya berkaitan dengan teknologi. Padahal, akar permasalahan lebih dalam terkait dengan perilaku masyarakat dalam menghasilkan dan mengelola sampah. Pendekatan sosial dan humaniora harus menjadi bagian penting dalam mencari solusi yang efektif.

“Perilaku masyarakat yang belum berubah menjadi salah satu faktor yang memperlambat penyelesaian masalah sampah,” tegasnya. Wiratni menekankan bahwa penerapan teknologi pengolahan sampah sering terhambat karena kurangnya dukungan dari rekayasa sosial yang memadai. Tanpa adanya perubahan perilaku dan sistem pengelolaan yang tepat, teknologi yang ada tidak akan memberikan dampak yang signifikan.

Integrasi Teknologi dan Rekayasa Sosial

Dalam konteks pencegahan bencana serupa di masa mendatang, Wiratni menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai ruang untuk melakukan riset dan pengembangan berbagai inovasi. Kampus dapat berfungsi sebagai laboratorium hidup yang menggabungkan pengembangan teknologi dengan pendekatan sosial. Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa menjadi rekomendasi kebijakan bagi pemerintah.

“Sebagai contoh, UGM telah mengembangkan model pengelolaan sampah berbasis komunitas di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT),” tuturnya. Di PIAT, sekitar 8 hingga 10 ton sampah diolah setiap hari, berasal dari kampus dan pemukiman di sekitarnya di Berbah, Sleman. Sistem yang diterapkan di sini memadukan pengelolaan limbah dengan pendekatan sosial untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.

“Pendekatan seperti ini dapat mengurangi ketergantungan pada landfill besar,” tambahnya.

Penerapan Sistem Pengelolaan yang Berkelanjutan

UGM juga berusaha membangun ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi di lingkungan kampus. Misalnya, teknologi timbangan berbasis Internet of Things digunakan untuk memantau timbulan sampah sekaligus mempelajari perilaku warga kampus dalam menghasilkan limbah. Produk dari pengolahan, seperti kompos, maggot, dan material bangunan, kemudian dihubungkan dengan berbagai inovasi lain di lingkungan kampus sehingga memiliki nilai guna.

“Pendekatan ini menjadi wahana belajar bagi masyarakat dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan,” jelas Wiratni. Dengan mengembangkan sistem pengelolaan yang berkelanjutan, UGM tidak hanya menawarkan teknologi pengolahan sampah, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi sirkuler yang mengaitkan berbagai bidang kepakaran di kampus.

Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan

Tragedi longsor di TPST Bantar Gebang merupakan pengingat pentingnya mengubah paradigma dalam sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan kontekstual untuk menangani masalah ini, yang tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga melibatkan perubahan perilaku masyarakat. Dengan integrasi antara teknologi dan rekayasa sosial, diharapkan dapat tercipta sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan di masa depan.

➡️ Baca Juga: Daftar Redeem Code Fisch Roblox Maret 2026 Terbaru

➡️ Baca Juga: 55 Ribu Guru Telah Mengikuti Pelatihan Coding dan Kecerdasan Buatan untuk Peningkatan Kualitas Mengajar

Exit mobile version