Syawalan Pekalongan: Potong Lopis sebagai Simbol Silaturahmi Warga Krapyak

Pekalongan, sebuah kota yang kaya akan tradisi dan budaya, masih merayakan suasana Lebaran dalam dua hari pertama Idul Fitri. Di antara rangkaian perayaan tersebut, tradisi Syawalan menjadi momen yang paling dinanti-nanti, yang tahun ini mencapai puncaknya pada hari Sabtu, 28 Maret. Tradisi ini bukan sekadar perayaan biasa; ia melambangkan kebersamaan dan rasa syukur masyarakat setempat.
Festival Lopis Raksasa di Krapyak
Setiap tahun, Festival Lopis Raksasa diselenggarakan di kawasan Krapyak Kidul, tepatnya di Gang 8 (Gang Sembawan), Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara. Acara ini menjadi bagian penting dari kemeriahan Pekan Syawalan, di mana masyarakat berkumpul untuk merayakan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.
Sejak H+2 Idul Fitri, warga sudah mulai mempersiapkan lopis berukuran raksasa. Proses pembuatannya melibatkan lebih dari lima kuintal beras ketan, yang digunakan untuk menciptakan satu lopis raksasa yang menjadi simbol utama perayaan ini. Kegiatan ini bukan hanya sekadar membuat makanan, tetapi juga mengikat rasa kebersamaan di antara warga.
Makna di Balik Pembuatan Lopis
Tradisi pembuatan lopis di Kelurahan Krapyak bukanlah hal yang baru. Ini merupakan warisan budaya yang melibatkan pembuatan panganan khas berbahan dasar beras ketan. Lopis ini menyimpan makna yang dalam, mencerminkan rasa syukur dan kebersamaan yang menguatkan tali silaturahmi antarwarga.
Ketika memasuki hari kedua Lebaran, suasana Krapyak akan dipenuhi oleh pedagang lopis. Aroma ketan kukus yang berpadu dengan kelapa parut menandakan bahwa Syawalan telah tiba. Kehadiran lopis menjadi lebih dari sekadar makanan; ia menjadi simbol waktu sosial, mengingatkan masyarakat bahwa masa libur Lebaran akan segera berakhir.
Lopis sebagai Simbol Kebersamaan
Di balik kesederhanaan tampilannya, lopis mengandung filosofi yang mendalam. Dalam tradisi masyarakat Jawa pesisir, termasuk di Pekalongan, lopis diartikan sebagai pengakuan kesalahan atau lepat. Panganan ini melambangkan ikatan budaya yang menyatukan ingatan, rasa, dan makna kebersamaan, serta mempererat silaturahmi.
Bentuk lopis yang padat dan lengket menggambarkan eratnya tali persaudaraan setelah saling memaafkan. Sementara itu, daun pisang yang membungkus ketan melambangkan harapan agar manusia dapat menjaga perilaku hidupnya tetap teratur dan bermakna. Kombinasi ini menciptakan sebuah simbol yang kuat dalam konteks sosial dan spiritual masyarakat.
Proses Pembuatan Lopis yang Sarat Makna
Pembuatan lopis melibatkan proses memasak beras ketan hingga menjadi lengket dan menyatu. Proses ini mencerminkan persatuan atau kraket, yang berarti erat. Warna putih yang dihasilkan dari ketan tidak hanya menambah daya tarik visual, tetapi juga dimaknai sebagai simbol kebersihan dan kesucian, sejalan dengan semangat kembali fitri di bulan yang suci.
Daun pisang yang digunakan sebagai pembungkus juga memiliki makna simbolis yang mendalam. Ia mencerminkan ajaran Islam dan kemakmuran, menunjukkan bahwa nilai-nilai kebaikan dalam ajaran Islam selalu menuntun manusia untuk menjaga karunia Tuhan. Pemilihan daun pisang yang sesuai, tidak terlalu tua maupun terlalu muda, juga berpengaruh terhadap cita rasa lopis yang dihasilkan.
Simbolisme dalam Ikatan Lopis
Pembungkus lopis yang diikat menggunakan serat pelepah pisang melambangkan kekuatan. Ini menunjukkan bahwa kondisi baik yang diperoleh setelah kembali fitri harus dijaga agar tetap kuat dan bahkan semakin meningkat dalam kebaikan. Ikatan tersebut menandakan pentingnya hubungan antar sesama umat Muslim dalam menjaga silaturahmi.
Pada hari ketujuh Syawal, lopis ini dibagikan kepada warga dan para pengunjung yang datang untuk menyaksikan prosesi pemotongan panganan tradisional tersebut. Aktivitas ini menjadi momen yang dinanti-nanti, di mana masyarakat saling berbagi dan merayakan kebersamaan serta kedamaian.
Asal Usul Tradisi Lopis di Krapyak
Tradisi pembuatan lopis dalam rangka Syawalan di Krapyak pertama kali dipelopori oleh KH Abdullah Sirodj, seorang ulama lokal yang memiliki garis keturunan dari Tumenggung Bahurekso, Senopati Mataram. Inisiatif beliau dalam mempertahankan tradisi ini menunjukkan betapa pentingnya warisan budaya bagi masyarakat setempat.
Dengan semangat yang diwariskan, tradisi ini terus hidup dan berkembang hingga kini, menjadikan Syawalan di Pekalongan bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga pengingat akan pentingnya kebersamaan dan rasa syukur dalam setiap momen kehidupan.
➡️ Baca Juga: Perkuat Armada Wilayah Timur untuk Menghadapi Momentum Mudik 2026
➡️ Baca Juga: Jobstreet oleh Seek Perkenalkan Basic Talent Search: Akses Gratis 50 Juta Profil Kandidat



