4 Strategi Efektif Mengatasi Overthinking Saat Tidak Mudik Lebaran menurut Dosen Unesa

Lebaran sering kali dianggap sebagai momen pulang ke kampung halaman, namun bagi beberapa individu seperti mahasiswa dan pekerja, mudik bukanlah pilihan yang selalu dapat dilakukan. Berbagai faktor, seperti keterbatasan finansial, komitmen kerja, atau tanggung jawab lainnya, sering kali memaksa mereka untuk merayakan Hari Raya Lebaran di tempat perantauan. Di tengah euforia media sosial yang mengaitkan mudik dengan kebahagiaan, perasaan cemas, tidak nyaman, atau overthinking kerap muncul bagi mereka yang tidak dapat pulang. Riza Noviana Khoirunnisa, seorang dosen dari Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya, menyatakan bahwa perasaan tersebut adalah hal yang wajar. Menurutnya, tingkat kecemasan ini tidak hanya dipengaruhi oleh jarak dari rumah, tetapi juga oleh cara individu memaknai situasi yang dihadapinya. Untuk memastikan bahwa suasana Idulfitri tetap hangat meskipun tidak berada di dekat keluarga, ia membagikan beberapa strategi yang dapat membantu.
1. Kenali dan Tata Ulang Pikiran Negatif
Langkah pertama yang perlu diambil untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan menyadari munculnya berbagai kekhawatiran dan pikiran negatif, seperti rasa takut dianggap gagal, khawatir akan tuduhan ketidakpedulian terhadap keluarga, atau merasa kehilangan momen berharga. Riza menyarankan penerapan pendekatan sederhana yang diambil dari Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yaitu dengan menguji kebenaran dari kekhawatiran yang muncul. “Dengan mengamati situasi secara objektif, kekhawatiran kita perlahan-lahan akan berkurang. Kita dapat memahami bahwa tidak mudik bukanlah sebuah kegagalan, melainkan keputusan yang diambil berdasarkan kondisi tertentu,” jelasnya.
2. Kurangi atau Jeda Media Sosial
Sering kali, paparan konten tentang mudik dan kebersamaan keluarga di media sosial dapat menjadi pemicu perasaan minder atau fear of missing out (FOMO). Oleh karena itu, mengambil jeda dari konsumsi media sosial bisa menjadi langkah yang bijaksana untuk kembali memfokuskan diri pada keadaan diri sendiri. Riza menekankan pentingnya penerimaan diri (self-acceptance) sebagai kemampuan untuk menghargai kondisi saat ini tanpa syarat. “Ketika kita mampu menerima keadaan dengan lapang dada, hati kita akan lebih tenang dan tidak mudah merasa ‘kurang’ dibandingkan orang lain,” tambahnya.
3. Maknai Kepulangan secara Lebih Luas
Lebaran sejatinya adalah tentang merayakan kemenangan dan kembali ke fitrah, bukan hanya sekedar perjalanan fisik menuju kampung halaman. Silaturahmi tetap dapat terjalin dengan baik melalui teknologi, tanpa mengurangi rasa hormat dan kehangatan. Selain itu, momen sepi di perantauan dapat dimanfaatkan untuk refleksi diri, evaluasi pencapaian, dan membangun kembali energi positif untuk melanjutkan perjuangan setelah Lebaran. Menggunakan waktu ini untuk introspeksi dapat membantu kita lebih memahami diri sendiri dan memperkuat mental untuk menghadapi tantangan di masa depan.
4. Ingat Kembali Tujuan: Berjarak untuk Masa Depan
Poin yang tidak kalah penting adalah mengingat kembali tujuan utama mengapa kita berada di perantauan. Ingatlah bahwa meski terpisah jauh dari rumah dan keluarga, serta harus melewatkan momen mudik, ini semua adalah bagian dari perjalanan besar menuju masa depan yang lebih baik dan kebanggaan bagi keluarga. Menyadari bahwa “ketidakhadiran” sementara ini adalah investasi untuk kesuksesan di kemudian hari dapat memberikan motivasi mental yang kuat. Fokus pada tujuan besar ini akan mengubah perasaan kesepian menjadi kebanggaan atas ketahanan dan usaha kita dalam mencapai cita-cita.
Melatih Kesadaran Penuh
Selain keempat langkah di atas, Riza juga mengingatkan pentingnya melatih mindfulness atau kesadaran penuh agar pikiran kita tidak terjebak dalam kecemasan tentang masa lalu atau masa depan. Jika muncul rasa tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain, terutama ketika ditanya tentang mudik, hal ini adalah reaksi yang wajar. “Membangun kepercayaan diri yang sehat dan bersikap asertif di saat-saat tertentu dapat membantu kita menjaga batasan diri tanpa menyinggung perasaan orang lain,” tutupnya.
Menghadapi situasi di mana kita tidak dapat mudik saat Lebaran tentunya bisa menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan beberapa strategi yang telah dibahas, diharapkan kita dapat menghadapi perasaan tersebut dengan lebih baik dan menjadikan momen Idulfitri tetap berarti meskipun jauh dari keluarga. Mari kita manfaatkan waktu ini untuk berintrospeksi, membangun diri, dan tetap terhubung dengan orang-orang terkasih meskipun secara virtual.
➡️ Baca Juga: Pemerintah Kota Jakarta Timur Temukan 27 Lapangan Padel Tak Berizin
➡️ Baca Juga: Rekap Hasil Pertandingan 16 Besar UCL 2026 Leg 1 dan Skor Agregat




